Laba Bersih ITM Naik Tiga Kali Berkat Kenaikan Harga

18 Agu 2017 16:23

PT Indo Tambangraya Tbk. (ITM) pada paruh pertama tahun ini mencetak laba bersih tiga lipat dibanding pada periode yang sama tahun lalu berkat rata-rata harga jual batu bara yang naik secara bermakna.

Laba bersih tercatat USD 105 juta pada semester pertama 2017 versus USD 36 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata harga jual batu bara pada paruh pertama USD 68,4 per ton, naik 48% dari USD 46,3 per ton pada periode yang sama tahun lalu.  Kenaikan rata-rata harga batu bara global disebabkan oleh permintaan yang meningkat terutama di China karena pasokan dalam negeri yang terbatas.

Dengan volume penjualan 10,9 juta ton pada sepanjang semester pertama, perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar USD 749 juta pada tahun ini, naik 23% dari USD 609 juta pada periode yang sama tahun lalu. Marjin laba kotor pada kurun waktu ini 28% dibandingkan 19% pada kurun waktu yang sama tahun lalu, sedangkan EBIT naik 173% menjadi USD 160 juta secara year-on-year. Laba bersih per saham tercatat USD 0,10.

Sampai dengan akhir paruh pertama 2017, total aktiva ITM bernilai USD 1.255 juta dengan ekuitas USD 916 juta. Perusahaan mempertahankan posisi kas dan setara kas sebesar USD 370 juta tanpa hutang pada akhir semester pertama.

Perusahaan menjual 10,9 juta ton batu bara sepanjang paruh semester pertama yang dikapalkan ke Jepang (2,3 juta ton), China (2,3 juta ton), Indonesia (1,4 juta ton), Thailand (1,3 juta ton), India (0,9 juta ton), Korea Selatan (0,8 juta ton), Filipina (0,8 juta ton), dan negara-negara lain di  Asia Timur, Selatan, dan Tenggara.

Untuk tahun 2017 volume produksi ditargetkan 23,8 juta ton sedangkan target volume penjualan ditargetkan 25 juta ton. Dari angka itu, 89% sudah terjual.  

Harga batu bara pada paruh kedua mendatang diperkirakan dipengaruhi kebijakan produksi batu bara di China. Pemerintah China telah mencabut pengetatan produksi batu bara dalam negeri semenjak kuartal pertama, namun kapasitas produksi negara tersebut sepertinya tidak dapat memenuhi kenaikan permintaan yang cepat. Harga jual batu bara diharapkan stabil sampai penghujung tahun.

Tahun ini perusahaan akan terus meningkatkan produktivitas, misalnya dengan meningkatkan infrastruktur tambang dan memaksimalkan proses seperti mempercepat siklus penongkangan.  Perusahaan terus berusaha untuk tetap di depan memimpin kecenderungan pasar dan tetap luwes dalam jangka pendek maupun jangka panjang guna memaksimalkan jumlah cadangan batu bara.

Perusahaan menjalankan beberapa strategi guna menangkap marjin pada sepanjang rantai nilai dengan lebih banyak menggunakan kontraktor internal, membeli batu bara dari pihak ketiga guna meningkatkan nilai proses pencampuran batu bara serta meningkatkan efektivitas pembelian dan logistik bahan bakar guna meminimalkan harga. Selain itu sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik di dalam negeri, perusahaan telah meragamkan bisnis inti dengan berinvestasi pada bidang pembangkit energi. 

Kembali ke Berita