Kinerja yang Kuat Berlanjut di Triwulan Pertama

17 Mei 2018 09:19

ITM mempertahankan kinerja keuangan yang kuat.

PT Indo Tambangraya Tbk. (ITM) mempertahankan kinerja keuangan yang kuat pada triwulan pertama 2018. Perusahaan membukukan kenaikan tipis laba bersih dibandingkan laba bersih yang diperoleh pada triwulan pertama tahun lalu. Kinerja yang kukuh ini tercapai di tengah produksi yang menurun akibat hujan yang ekstrim.

 

Laba bersih tercatat USD 58 juta pada triwulan pertama 2018 versus USD 57 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata harga jual batu bara pada triwulan pertama USD 83,6 per ton, naik 24% dari USD 67,5 per ton pada periode yang sama tahun lalu. 

 

Kenaikan rata-rata harga batu bara global disebabkan oleh permintaan yang meningkat terutama di China karena pasokan dalam negeri yang terbatas yang berlanjut sampai awal tahun ini.

 

Perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar USD 379 juta, naik 3% dari USD 368 juta pada periode yang sama tahun lalu. Marjin laba kotor pada kurun waktu ini 29% dibandingkan 31% pada kurun waktu yang sama tahun lalu, sedangkan EBIT turun tipis 1% menjadi USD 88 juta secara year-on-year. Laba bersih per saham tercatat USD 0,05.

 

Sampai dengan akhir triwulan pertama 2018, total aktiva ITM bernilai USD 1373 juta dengan ekuitas USD 873 juta. Perusahaan mempertahankan posisi kas dan setara kas sebesar USD 424 juta tanpa hutang pada akhir triwulan pertama.

 

Perusahaan menjual 4,4 juta ton batu bara pada triwulan pertama, lebih rendah 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dikapalkan ke  Jepang (0,9 juta ton), China (0,7 juta ton), Filipina (0,5 juta ton), Indonesia (0,5 juta ton), India (0,4 juta ton), Thailand (0,3 juta ton), Korea Selatan (0,3 juta ton), dan negara-negara lain di  Asia Timur, Selatan, dan Tenggara.

 

Penjualan turun disebabkan oleh produksi yang lebih rendah akibat curah hujan yang tinggi. Perusahaan menghasilkan 4,4 juta ton pada triwulan pertama. Adapun tahun 2018, target volume penjualan adalah 25 juta ton yang sebanyak 69% di antaranya telah terjual. Dari angka 25 juta ton, 22,5 juta ton direncanakan merupakan hasil penambangan perusahaan sedangkan 2,5 juta ton berasal dari PT ITM Indonesia, anak perusahaan ITM.

 

Untuk tahun 2018 perusahaan akan melanjutkan beberapa strategi inti, yaitu menangkap marjin sepanjang rantai nilai dan memaksimalkan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.

 

Guna mendapatkan marjin tambahan, perusahaan akan memperluas operasi ke kontrak pertambangan. Perusahaan berencana memperluas armada pertambangan ke Gugus Melak agar dapat memperbaiki produktivitas dan kendali biaya. Di sisi lain, PT GasEmas yang diakuisisi tahun lalu, sebagai contoh, kini menjadi andalan perusahaan dalam pembelian bahan bakar. Pembelian langsung telah mengurangi biaya bahan bakar secara bermakna. Perusahaan akan terus mencari cara-cara untuk menambah majin melalui keunggulan operasional, peningkatan produktivitas, serta penguatan proses bisnis.

 

Semua prakarsa penguatan marjin ini akan meningkatkan ragam pilihan untuk mengoptimalkan cadangan. Dengan marjin yang lebih banyak, perusahaan dapat mengakses wilaya baru, menggali lebih dalam sehingga cadangan meningkat. Prakarsa ini telah menghasilkan tambahan cadangan 77 juta ton yang diumumkan pada triwulan terakhir. Perusahaan akan terus mengoptimalkan rencana penambangan dan mengevaluasi peluang organik guna memaksimalkan nilai jangka panjang pemegang saham.

 

Perusahaan menganggarkan belanja modal sebesar USD 40 juta. Sebagian besar akan digunakan untuk memperluas armada pertambangan PT Tambang Raya Usaha Tama (TRUST).

 

Perusahaan juga aktif mengevaluasi setiap kemungkinan investasi baru dan akuisisi untuk baik energi konvensional maupun energi terbarukan.

Kembali ke Berita