Kinerja Semakin Kukuh di 2017, ITM Menuju Perusahaan Energi

28 Peb 2018 15:44

PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITM) sepanjang 2017 memperlihatkan kinerja yang semakin kukuh berkat harga batu bara yang naik secara bermakna dan strategi manajemen yang efektif.

Laba bersih tercatat USD 253 juta pada tahun 2017 dibanding USD 131 juta pada tahun 2016. Rata-rata harga jual batu bara sepanjang tahun tercatat USD 73,0 per ton, naik 43% dari USD 51,0 per ton pada tahun fiskal sebelumnya.

Kenaikan rata-rata harga batu bara disebabkan oleh kenaikan permintaan secara global sedangkan pasokan terbatas karena cuaca buruk menghambat produksi di negara-negara produsen.

Di China konsumsi batu bara yang meningkat mendorong pemerintah membuka impor pada akhir tahun karena musim dingin yang parah bersamaan dengan produksi batu bara dalam negeri yang lamban. Di India keterbatasan pasokan di dalam negeri menyebabkan kebergantungan terhadap impor.

Dengan penjualan 23,1 juta ton sepanjang tahun, perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar USD 1.690 juta, 24% lebih tinggi daripada USD 1.367 juta pada tahun sebelumnya. Dalam tahun 2017 marjin laba kotor tercatat 30% berbanding 24% di tahun sebelumnya, sedangkan EBIT naik 89% menjadi USD 388 juta dari tahun sebelumnya. Laba bersih per saham tercatat USD 0,23.

Sampai dengan akhir 2017, total aktiva ITM bernilai USD 1.359 juta dengan ekuitas USD 958 juta. Perusahaan mempertahankan posisi kas dan setara kas sebesar USD 374 juta tanpa hutang.

Perusahaan menjual 23,1 juta ton batu bara dalam tahun 2017 yang dikapalkan ke Jepang (5,3 juta ton), China (4,2 juta ton), Thailand (2,7 juta ton), India (2,6 juta ton), Indonesia (2,5 juta ton), Korea Selatan (1,8 juta ton), Filipina (1,7 juta ton), dan negara-negara lain di Asia Timur, Selatan, dan Tenggara.

Untuk tahun 2018 volume produksi ditargetkan 22,5 juta ton sedangkan sasaran volume penjualan adalah 25 juta ton. Dari angka itu, 53% sudah terjual.

Dengan memperbarui asumsi dan eksplorasi serta mengakuisisi PT Tepian Indah Sukses (TIS) yang memiliki cadangan sebesar 4,7 juta ton, perusahaan telah menambah cadangan batu bara sebesar 77 ton dalam tahun 2017 sehingga sampai dengan akhir tahun total cadangan secara keseluruhan menjadi 253 juta ton.

Untuk tahun 2018 perusahaan menjalankan beberapa strategi guna mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan energi. Pertama memaksimalkan nilai jangka panjang dengan menambah cadangan batu bara secara organik maupun organik, memperkuat marjin melalui keunggulan operasional, memperbaiki produktivitas, dan penguatan proses bisnis.

Kedua, menangkap marjin sepanjang rantai nilai. Pembelian PT GasEmas tahun lalu, sebagai contoh, menghasilkan penghematan biaya bahan bakar serta memungkinkan tambahan pendapatan dan marjin dari pihak ketiga.

Perusahaan juga mengalokasikan belanja modal sebesar USD 40 juta untuk anak perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan, PT Tambang Raya Usaha Tama (TRUST), guna meningkatkan produktivitas armada. Di samping itu, perusahaan juga manargetkan anak perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, PT ITM Indonesia, untuk memperoleh kontrak penjualan 2,5 juta ton batu bara.

Perusahaan juga aktif mengevaluasi setiap kemungkinan investasi baru dan akuisisi untuk baik energi konvensional maupun energi terbarukan.

Kembali ke Berita