Harga Jual Turun, Laba Bersih Berkurang 34%

PT Indo Tambangraya Megah Tbk. mencatat pendapatan bersih sebesar US$ 67 juta dalam kuartal pertama tahun 2010, atau turun 34% dari US$102 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyumbang utama penurunan pendapatan bersih adalah harga rata-rata jual batubara yang turun signfikan 22% dari US$85 per ton menjadi US$67 per ton. Penurunan ini menyebabkan marjin laba kotor turun 8% dari 41% menjadi 33%, dan pendapatan sebelum bunga dan pajak (EBIT) turun 18% dari US$114 juta menjadi US$93 juta.

Volume penjualan batubara meningkat 50% menjadi 6,1 juta ton pada kuartal pertama tahun ini, sehingga total penjualan bersih naik 17% menjadi US$408 juta dari US$347 juta.

Sampai akhir Maret 2010, total volume produksi batubara adalah 5,98 juta ton, atau naik 36% dari 4,39 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Posisi kas dan setara kas sampai dengan akhir kuartal pertama adalah US$453 juta, atau naik 6% dari US$429 juta di akhir tahun 2009. Posisi utang sampai saat ini US$55 juta, sedangan jumlah posisi ekuitas adalah US$1.230 juta.

Dengan pembagian dividen final Rp1.286 per lembar pada tanggal 19 Mei 2010, untuk tahun fiskal 2009 Perusahaan telah membayarkan total dividen sebesar Rp1.964 per lembar, atau 70% dari laba bersih.

Tiongkok Menggeser Jepang

Dari target penjualan 23 juta ton tahun ini, 94% sudah dikontrak dengan perincian 72% telah ditentukan harga jualnya, sedangkan 20% berdasarkan harga indeks (seperti Barlow Jonker dan New Castle), sedangkan 2% sudah disepakati volume penjualannya. Adapun 6% sisanya belum terjual.

Dari 6,1 juta ton batubara yang terjual pada triwulan pertama 2010, sebanyak 1,8 juta ton (29%) dipasarkan ke Tiongkok, 1,4 juta ton (24%) ke Jepang, 0,6 juta ton (10%) ke Filipina, 0,6 juta ton (9%) ke Italia, 0,5 juta ton (8%) ke Taiwan, 0,4 juta ton (7%) ke Thailand, 0,3 juta ton (6%) ke Malaysia, dan 0,2 juta ton (4%) ke Indonesia.

Tiongkok untuk kali pertama menggeser kedudukan Jepang sebagai pembeli terbesar batubara ITM. Diperkirakan sampai akhir tahun ini, permintaan dari Tiongkok dan Korea Selatan akan meningkat sebagai dampak dampak pemulihan ekonomi domestik. Memasuki musim penghujan, permintaan batubara Indonesia akan meningkat seiiring dengan berkurangnya pasokan batubara dalam negeri.

Untuk tahun ini, Perusahaan mempunyai target produksi yang sama dengan target penjualan, yaitu 23 juta ton, atau naik 1,6 juta ton dari target tahun lalu. Dari angka itu, diharapkan Indominco dapat memberikan kontribusi 13,2 juta ton, Trubaindo 6 juta ton, Jorong 2 juta ton, Embalut 1,6 juta ton. Adapun Bharinto diharapkan akan mulai berproduksi pada akhir tahun 2010 dengan target produksi awal 0,2 juta ton.

ITM menghasilkan batubara dengan energi kisaran antara 5.300 kkal/kg sampai dengan 6.550 kkal/kg dengan kandungan sulfur antara 0,3% - 0,7%, kandungan abu 4% - 7%, dan kadar kelembaban 30% - 12%.

Proyek-proyek

Pembangkit Listrik Tenaga Batubara Bontang memiliki kapasitas total 14 megawatt untuk digunakan sumber energi listrik di Terminal Batubara Bontang dan Tambang Indominco. Saat ini pembersihan kimiawi sudah diselesaikan sedangkan uji perlengkapan masih dilakukan.

Persiapan operasi dan perawaan memasuki tahap akhir. Termasuk di dalamnya perizinan, pengadaan alat-alat dan suku cadang, pemasangan sistem operasi, dan perekrutan sumber daya manusia. Pembangkit Listrik Bontang diharapkan dapat mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2010.

Sementara itu, proyek perluasan Terminal Batubara Bontang telah meningkatkan kemampuan kapasitas penanganan batubara dari 5,6 juta per tahun ton pada tahun 2002 menjadi 18,5 juta ton per tahun pada akhir kuartal pertama 2010. Diharapkan kapasitasnya akan meningkat menjadi 20 juta ton pada akhir tahun ini.

Terminal Batubara Bontang yang diperluas diharapkan dapat mengurangi biaya logistik dan meningkatkan diversifikasi produk. Selain itu, dia juga akan mengurangi kebergantungan kepada pihak ketiga dan memampukan Perusahaan memasok batubara untuk kebutuhan domestik.

Belanja Modal Utama US$101 Juta

Untuk tahun 2010, ITM mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) sebesar US$101 juta. Anggaran ini digunakan terutama untuk melakukan aset organik. Di antaranya peningkatan kapasitas angkut ban berjalan di Blok Timur Tambang Indominco, pembangunan tambang dalam di Tambang Indominco dan Tambang Trubaindo, penyediaan peralatan untuk Tambang Kitadin Tandung Mayang, pengembangan infrastruktur Tambang Kitadin Embalut, serta pengembangan Tambang Bharinto.