ITM Serahkan Bantuan bagi Korban Gempa di Padang

ITM mengirimkan sejumlah paket bantuan bagi para korban gempa di Padang. Bantuan yang dikapalkan sampai dengan 20 Oktober terdiri atas 10 ton beras, 750 dus mi cepat saji, 1000 kaleng biskuit, 750 liter minyak goreng, 1000 kain sarung dan 750 potong pakaian anak. Nilai keseluruhan bantuan setara dengan Rp 198 juta rupiah.

Bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut, barang-barang diangkut dengan kapal perang KRI 356 Teluk Sibloga, bersama paket bantuan dari pelbagai lembaga donor lain.

Setelah 36 jam pelayaran dari Tanjung Priuk Jakarta, pada tanggal 22 Oktober 2009 KRI Sibloga berlabuh di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Pada hari berikutnya, 23 Oktober 2009, 8 karyawan ITM tiba di Padang. Tim ITM terdiri atas Leksono Poeranto, Rudy Prabowo, Heriyadi Zulhadi, Novrijal Tamsir, Amin Trirahayu, Yudho, Deddy Supriyadi and Rully Herdiansyah.

Tim ini kemudian melakukan rapat koordinasi dengan tentara setempat (Komando Rayon Militer Padang) guna mempersiapkan kegiatan seperti menurunkan barang dari kapal ke truk. Kesepuluh truk itu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas 5 truk yang menuju Pariaman dan sisanya menuju Agam. Aktivitas bongkar bermula pukul 11 dan berakhir pada pukul 8.

Pada hari Sabtu, pukul 07.20. Tim ITM yang membawa barang bantuan melakukan konvoi panjang ke Pariaman.

Dua jam berikutnya, paket bantuan diterima oleh penduduk desa di Pariaman. Para tentara membantu tim ITM membagi-bagikan barang-barang bantuan bagi para korban. Adapun kelompok bantuan kedua meneruskan perjalanan ke Agam.

Agam adalah terletak di pinggiran kota Padang, dekat Danau Maninjau yang indah. Tim mengarah ke Desa Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, di Kabupaten Agam. Tim ITM mengunjungi salah satu kawasan evakuasi yang menampung 750 warga dari 112 kelarga.

Mereka tinggal di tenda-tenda darurat dengan fasilitas sanitasi yang minim. Petugas pemerintah, tentara, dan relawan dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat baik asing maupun nasional membantu mereka menghadapi hari-hari yang berat. Para pengungsi ini menghindari ancaman tanah longsor. Mereka mengalami trauma yang serius karena sempat menyaksikan sebuah desa tetangga terkubur hidup-hidup.

Tim mengunjungi para pengungsi dan menyerahkan seluruh paket bantuan kepada mereka. Sekali lagi, tentara membagi-bagikan paket bantuan dengan kerja yang rapi dan rinci.