Lomba Final Membaca Lantang Disi Beragam Kegiatan

Setelah menyatakan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, Kaisar Hirohito bertanya kepada para pembantunya, “Berapa jumlah guru yang selamat?”

Sang Kaisar mempunyai visi jauh ke depan, bahwa negerinya yang luluh lantak lantaran kalah perang hanya dapat kembali meraih kehormatan mereka di mata dunia melalui peran guru. Dengan pendidikan, Jepang membangun kembali negeri mereka.

Singkat kata, guru pahlawan tanpa tanda jasa. ITM sangat menyadari peran guru dalam memajukan taraf hidup anak bangsa.

Dan ITM merasa perlu memberikan penghargaan bagi para guru yang telah berjasa bagi pembangunan negeri. Penghargaan bisa saja dalam bentuk kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri mereka.

Para guru, misalnya, diajak mengikuti “Lomba Membaca Lantang Buku Cerita tentang Batubara.” Namun, pertama-tama, mereka dibekali pengetahuan tentang metoda ini dalam lokakarya tiga bulan sebelumnya.

Dari 88 orang guru dari 37 sekolah dasar di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang ikut serta, 21 orang lolos ke babak final yang diadakan tanggal 22-23 Mei 2010 di Wisma PKBI Jakarta.


Kita adalah Pemenang

Sebelum berlomba dalam babak akhir, para finalis memperoleh kelas karir oleh Ainy Fauziah, seorang pakar dalam pengembangan diri yang menjadi pembicara di International Shelter Meeting di Jenewa, Swiss tahun 2007. Dalam kelas ini, Ainy memancing para guru untuk bercerita tentang apa yang membuat mereka bahagia.

“Saya bukan orang kaya, tapi saya merasa bahagia bisa memberi kepada orang lain dengan menjadi seorang guru,” kata seorang peserta.

Seorang peserta lain sambil menangis terisak mengatakan bahwa pada awalnya pilihannya menjadi seorang guru ditentang orangtua, tapi kini dia membuktikan bahwa pilihannya benar. “Saya bahagia dengan pilihan saya,” katanya sambil berurai air mata.

Menurut Ainy, kebebasan menjadi diri sendiri adalah hal yang menjadikan kita bahagia. “Karena itu, kejarlah impian Anda dalam kondisi apapun, dan berbagilah kepada sesama,” katanya. “Tuhan menjadikan kita pemenang yang mulia, yaitu manusia yang berarti bagi orang di sekitar kita,” katanya.

Terapi Hipnosis Massal

Pada hari kedua, diadakan kelas Neuro Linguistic Programming (NLP) yang diikuti 21 guru finalis dan 42 guru non-finalis. NLP adalah sebuah metode untuk mengubah perilaku tertentu, dan memberikan kemampuan untuk memilih sendiri kondisi mental, emosional dan kondisi fisik.

Dengan mengenal NLP yang berhubungan dengan cara kerja otak, para guru diajarkan bagaimana mengenal hambatan dan fungsi komunikasi dalam pengajaran.

“Sebanyak 88% tindakan kita adalah hasil kerja tak sadar,” kata Yant Subiyanto, sang pelatih, yang juga anggota National Federation NLP Florida Amerika Serikat.

Yant kemudian melakukan terapi hipnosis secara massal kepada seluruh peserta. Para guru yang berada dalam kondisi kesadaran Theta, diajak menghapus luka-luka emosi di masa silam dan kemudian disugestikan secara positif untuk percaya diri dalam menggapai sukses mereka.

“Saya merasa segar,” kata seorang peserta, ketika tersadar kembali.

Malam Penghargaan

Babak akhir Lomba Membaca Lantang berlangsung menarik. Para finalis berlaga memperagakan kemampuan storytelling dengan gaya masing-masing. Ada yang menggunakan model lapisan bumi, ada juga yang mengajak para pelajar – yang juga berperan sebagai juri -- untuk bernyanyi. Para juri terdiri dari guru, mahasiswa ilmu perpustakaan, dan anak-anak sekolah dasar. Kebanyakan terlihat gugup, karena tidak pernah mengikuti kompetisi sebelumnya.

Namun, kerja keras mereka terbayar sudah pada saat malam penganugerahan bagi para pemenang. Acara ini diselingi pelbagai pementasan tari dan nyanyi oleh para pelajar.

Hadir dalam acara itu adalah Direktur ITM Mahyudin Lubis, Asisten Wakil Presiden untuk Komunikasi Korporat dan Pengembangan Masyarakat, Tri Harjono, Direktur Profesi Pendidik Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas Achmad Dasuki, serta Rossie Setiawan dari Komunitas Kutu Baca.

“Kegiatan pertambangan kami kembalikan salah satunya dalam bentuk pendidikan semacam ini, ” kata Mahyudin sambil menambahkan bahwa ITM Pendidikan adalah salah satu program terpenting CSR Perusahaan. “Cerdas Ajar insya allah berlanjut dengan program-program lain yang meningkatkan kapasitas guru,” ujarnya.

Ahmad Dasuki mengucapkan terima kasih karena ITM sudah menerapkan konsep yang mendahului pemerintah. ITM telah ikut mendukung pembentukan karakter bangsa,” kata Ahmad Dasuki.

Pemenang pertama adalah Probowati Nur Amin. Pemenang kedua Anis Amini. Pemenang ketiga Khusniyati Masykuroh. Harapan pertama adalah Rosida Panjaitan. Harapan kedua Dede Zaenal Mutaqin. Harapan ketiga Nurhadi.

Selain itu ada pemenang untuk kategori “Guru Terfavorit” (Sumarni), “Guru Paling Berbakat” (Surti Suryati), “Guru Paling Kreatif” (Dede Zaenal Mutaqin), dan “Guru Paling Inspiratif” (Tarida Saragi), “Guru Paling Menyenangkan” (Farida Simanjuntak).

Para pemenang menerima piala, uang yang berkisar antara Rp500.000 sampai dengan Rp4.000.000, telepon selular, dan cenderamata dari ITM.

“Guru adalah profesi yang luar biasa,” kata Manajer Komunikasi Korporat ITM, sambil menyampaikan haragan agar para guru terus berkarya setelah acara ini.