ITM Terus Beradaptasi di tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

3 Mar 2020 11:12

Efisiensi sepanjang tahun itu membuat perusahaan menghemat USD 59,5 juta.

ITM terus beradaptasi di tengah ketidakpastian ekonomi global guna mempertahankan kinerja yang baik pada tahun fiskal 2019.

 

Situasi ekonomi dunia tahun lalu ditandai perang dagang yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dengan China. Ketidaksepakatan untuk mengakhiri sengketa dagang di antara kedua negara tersebut menyebabkan ekonomi dunia tertekan sehingga permintaan  batubara global menurun.  

 

Di sisi lain, pasokan bertambah lebih cepat daripada permintaan. Akibatnya, harga batubara global terus melemah. Perusahaan mencatat penurunan rata-rata harga jual batubara sebesar 20% dari USD 81 per ton pada tahun 2018 menjadi USD 64,6 per ton pada tahun 2019. Akibatnya, laba bersih Perusahaan juga menyusut menjadi USD 127 juta dari USD 259 pada tahun sebelumnya.

 

Penurunan rata-rata harga jual juga menggerus pendapatan bersih perusahaan dari USD 2.008 juta menjadi USD 1.716 juta sedangkan marjin laba kotor turun dari 29% menjadi 19% secara year-on-year.



EBITDA tercatat USD 242 juta, turun 51% dari USD 497 juta pada periode yang sama tahun lalu. Adapun laba bersih per saham dibukukan USD 0,12.

 

 

Meskipun demikian, perusahaan berhasil mencatat kenaikan volume penjualan batubara sebesar 1,8 juta ton menjadi 25,3 juta ton pada tahun ini dari 23,5 juta ton pada tahun sebelumnya. 

 

Biaya produksi juga berhasil ditekan seiring dengan menurunnya harga bahan bakar dan nisbah kupas. Efisiensi sepanjang tahun itu membuat perusahaan menghemat USD 59,5 juta.

 

 

Sampai dengan akhir Desember 2019, total aktiva ITM bernilai USD 1.209 juta dengan ekuitas USD 884 juta. Perusahaan mempertahankan posisi kas dan setara kas yang cukup baik sebesar USD 159 juta dengan pinjaman modal kerja jangka pendek sebesar USD 10,6 juta.

 

Dengan produksi batubara sebesar 23,4 juta, perusahaan sepanjang tahun 2019 mengapalkan batubara ke China (7,3 juta ton), Jepang (4,7 juta ton), Indonesia (3,3 juta ton), Filipina (1,7 juta ton), India (1,6 juta ton), Thailand (1,4 juta ton), Bangladesh (1,1 juta ton), dan negara-negara lain di Asia Timur, Selatan, dan Tenggara.

 


Guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global di tahun ini dan seterusnya, perusahaan akan fokus dalam beberapa hal sebagai berikut.

 

Pertama, meningkatkan operasional batubara. Di antaranya dengan melanjutkan prakarsa efisiensi biaya, memperluas skala dan lingkup operasi TRUST di Gugus Melak, dan meningkatkan volume angkut batubara. Kemudian memperkuat teknik-teknik dan praktik-praktik eksplorasi untuk memaksimalkan pertumbuhan cadangan.


Kedua, memperluas bidang usaha. Di antaranya dengan mencari peluang-peluang perluasan anorganik terutama kawasan yang dekat dengan aset-aset batubara saat ini. Kemudian memaksimalkan jaringan infrastruktur guna menghasilkan peluang usaha di luar operasi batubara.

 

Ketiga, mengoptimalisasi marjin sepanjang rantai nilai. Di antaranya memaksimalkan perdagangan dan pencampuran batubara guna meningkatkan mutu produk. Kemudian menggandakan konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang ada di Indominco ke tambang lainnya guna meningkatkan efisiensi. Di samping itu, memperluas porsi penjualan usaha bahan bakar untuk meningkatkan marjin dan melakukan diversifikasi usaha ini.

 

Keempat adalah memperkuat proses. Proses usaha yang sudah dilakukan saat ini diubah menjadi praktik pertambangan cerdas dengan menerapkan kemampuan digital dan pola pikir yang lincah. Di samping itu juga terus menghasilkan gagasan-gagasan yang inovatif dan prakarsa pengembangan sumber daya manusia di dalam organisasi.

Kembali ke Berita